Kembalike alam (back to nature) dan keamanan pangan (food safety), menjadi alasan bagi sebagian orang untuk lebih memilih pangan organik dibanding pangan yang penuh dengan sentuhan teknologi kimia dan bioteknologi. Selama ini beras yang dikonsumsi sangat “akrab” dengan pemakaian produk kimia. Tak lama lagi beras pun akan “mesra” dengan aplikasi bioteknologi.
Selain “beras Bt” (mengandung gen dari bakteri tanah Bacillus thuringinsis ), tak lama lagi muncul “beras emas”, hasil karya para peniliti dari Swiss dan Rockefeller Foundation di New York. Cara melakukan rekayasa genetika pada tanaman padi yang disisipi gen penghasil Pro Vitamin A, sehingga dihasilkan beras emas. Yakni melalui pemanfaatan bakteri Erwina uredovora dan Agrobacterium tumefaciens. Sisi positif beras emas diharapkan dapat mengatasi defisiensi vitamin A, yang mengancam kebutaan pada sekitar 400 juta penduduk di negara sedang berkembang dan negara terbelakang.
Memang ada sisi positif dan negatif dalam penemuan dan aplikasi teknologi. Antagonisme tersebut menggiring masyarakat pada dua kutub, skeptis dan optimis. Bagaimana jadinya jika pestisida yang memang senyawa kimia beracun itu, tidak pernah ditemukan dan dikembangkan dalam praktek pertanian. Sebagai ilustrasi, pada tahun 1800-an sejuta orang di Irlandia meninggal dunia. Hal itu karena terjadi kegagalan panen kentang, makanan pokok penduduk Irlandia, karena serangan suatu penyakit. Hal serupa terjadi di berbagai bagian bumi.
Tak dapat dipungkiri, pestisida atau pupuk kimia telah berperan nyata dalam meningkatkan produksi bahan pangan dunia, begitu pula terhadap produksi beras di Indonesia. Mengambil analogi dari contoh kasus tersebut, maka terhadap pengembangan tanaman transgenik, termasuk beras transgenik ialah meminimalisasi risiko.
Menurut Dr. Kartika Adiwilaga, praktisi bioteknologi, diperlukan peraturan, pelaksanaan dan pengawasan peraturan yang transparan sebelum suatu produk bioteknologi dilepas. Pelaksanaan dan pengawasan peraturan hendaknya didukung oleh pakar dari berbagai ilmu, termasuk bioteknologi yang berintegritas tinggi.
Dalam persoalan produksi bahan pangan terjadi simalakama, yaitu jika hanya mengandalkan pada teknologi produksi secara organik, bebas bahan kimia dan bebas pengaruh bioteknologi transgenik, maka kebutuhan beras dan bahan pangan lainnya sulit terpenuhi. Selain itu produksi bahan organik yang dihasilkan sangat terbatas dengan harga yang lebih mahal. Di sisi lainnya jika memanfaatkan teknologi kimia dan bioteknologi transgenik, memang produksi bahan pangan bisa melonjak. Namun yang menjadi persoalan serius adalah aspek keamanan dan kesehatan konsumen
Tidak ada komentar:
Posting Komentar